Senin, 02 Mei 2016

ReadyBoost, Mengubah Flashdisk 'Menjadi' RAM Tak Akan Menambah Kinerja PC


Jika sobat telah lama berkutat dengan komputer, maka pasti kenal dengan ReadyBoost. ReadyBoost adalah salah satu fitur Windows sejak Windows Vista, yang digunakan untuk mengubah kapasitas flash drive menjadi tambahan virtual RAM untuk Windows, demi mempercepat kinerja PC. Namun, sebagus apakah ini?

Apa ReadyBoost itu dan apa fungsi sebenarnya?

Mengubah flashdisk menjadi RAM untuk meningkatkan kinerja PC, ternyata hasilnya tak seindah yang dibayangkan. Jika sobat menggunakan PC dengan RAM yang cukup (misalnya di atas 2GB), maka hasil dari mengubah flashdisk menjadi RAM tidak akan terasa. Mengapa?


Kita mulai dari RAM dulu. Ketika pengguna membuka suatu aplikasi, maka aplikasi itu akan membuat bermacam-macam data sementara. Data itu disimpan di RAM sebagai cache. Semakin sering aplikasi tersebut dibuka, maka cache akan semakin banyak, dan semakin memenuhi kapasitas RAM. Ketika aplikasi itu dibuka kembali, maka ia akan berjalan lebih ringan, lebih cepat. Karena datanya gampang dimuat, yakni dari cache RAM. Aplikasi itu tak perlu ribet memuat data dari harddisk yang sangat luas.

Makanya, membersihkan data RAM justru memperlambat kinerja komputer, dan akan membebankan harddisk, ketika sobat membuka aplikasi yang berat. Windows sejak Windows Vista, memiliki teknologi yang disebut SuperFetch. Ini berguna untuk membantu Windows mengelola cache RAM agar lebih responsif terhadap aplikasi yang sering digunakan. Yang sering digunakan, maka akan dimuat cache-nya lebih banyak sehingga aplikasi akan berjalan lebih lancar.

Tak ada gunanya mengubah flashdisk menjadi RAM tambahan

Nah, saat flashdisk dihubungkan, dan dijadikan virtual memory dengan ReadyBoost, Windows akan memuat sebagian data sementara hasil olah SuperFetch di situ, maka RAM akan sedikit lebih bebas. Tentunya, aplikasi yang dibuka akan lebih cepat jika memuat data dari flashdisk ketimbang harddisk.

Namun, memuat data sementara dari RAM, itu lebih cepat ketimbang memuat data sementara dari flashdisk, yang sudah dijadikan virtual memory tersebut. Inilah penyebab jika menggunakan ReadyBoost untuk menjadikan flashdisk sebagai RAM tak akan terasa hasilnya. Kinerja PC justru menjadi lebih lambat.

Hasil akan terasa, meski pun sedikit, jika sobat menggunakan PC dengan RAM yang sangat-sangat sedikit (512MB mungkin, atau 1GB), dan itu pun belum tentu. Semakin banyak kapasitas RAM (4GB dan seterusnya), maka hasil semakin tak terasa. Perlu diketahui, Windows sendiri hanya membutuhkan setidaknya 2GB RAM, termasuk Windows 10.

Hasil juga ditentukan oleh kecepatan flashdisk yang digunakan. Jika sobat menggunakan flashdisk lama, hasil nyolong, kinerjanya sangat lambat, maka itu juga akan menentukan hasil yang didapatkan dengan ReadyBoost. Bukannya kinerja lebih cepat saat multitaskting, malah frustrasi karena kinerjanya jadi lebih lambat.

Lalu apa solusinya?

Mau kinerja PC meningkat? Ya upgrade RAM!

Jika sobat ingin mempercepat kinerja PC, maka sebaiknya meng-upgrade RAM, dari 2GB ke 4GB misalnya. Menjadikan flashdisk sebagai memory tambahan tak akan banyak membantu. Kalau pun membantu, maka hasilnya hanya sedikit terasa. Kinerja PC akan sama saja. Kecuali jika menggunakan PC dengan RAM yang sedikit dan mengaktifkan ReadyBoost.

Singkatnya, menjadikan flashdisk sebagai virtual memory tidaklah benar-benar membantu – tidak akan meningkatkan kinerja PC. Jika ya, maka perbedaannya tak akan terlalu terasa. Kinerja PC akan terasa tetap sama seperti sebelumnya, mengubah kapasitas flashdisk sebagai virtual memory. Kecuali, jika PC sobat menggunakan RAM yang sangat sedikit (misalnya 512MB, atau 1GB), kemudian menggunakan flashdisk sebagai RAM, maka akan terasa perbedaannya, meski belum tentu. :3

Selasa, 05 April 2016

Cara Mengecek Kondisi RAM dengan Windows Memory Diagnostic

windows memory diagnostic

Komputer yang berjalan secara tidak normal akan sangat menyebalkan. Mulai dari freez/hang, restart dengan sendirinya, hingga menampilkan BSOD. Jika itu terjadi, kamu mungkin perlu mengecek kondisi hardware. Kondisi hardware yang tidak memungkinkan bisa menyebabkan masalah yang fatal. RAM adalah salah satunya, dan kamu mungkin perlu mengecek kondisinya.

Jika masalah itu hanya karena driver yang kurang mendukung, kamu masih beruntung. Jika hardware itu (RAM) yang rusak, kamu mungkin perlu menggantinya, dan itu tentunya memerlukan biaya tambahan. Sangat penting untuk mengecek kondisi RAM.

Untuk mendiagnosis salah satu hardware yang sangat penting ini, RAM, kamu bisa menggunakan Windows Memory Diagnostic. Ini adalah fitur bawaan Windows yang akan sangat berguna untuk memeriksa kondisi RAM. Windows sendiri akan memberi tahu pengguna jika ada yang salah dengan PC mu untuk menjalankan Windows Memory Diagnostic.

Menjalankan Windows Memory Diagnostic

Windows memory diagnostic tersedia di Windows 10, 7, 8, dan 8.1. Untuk memeriksa kondisi RAM dengan Windows Memory Diagnostic, buka itu melalui Start menu, dan cari melalui kotak telusurnya. Pengguna Windows 10 bisa menggunakan Cortana untuk membukanya.

cortana

Setelah membuka Windows Memory Diagnostic, pilih apakah kamu ingin langsung restart dan melakukan diagnosis, atau restart nanti saja.

PC akan me-restart secara otomatis, dan melakukan diagnosis untuk mengetahui kondisi RAM. Ini akan berlangsung dalam beberapa menit, bergantung pada spesifikasi (mungkin).

Setelah selesai, PC akan kembali restart secara otomatis.

Mengecek Hasil Diagnosis

Hasil bisa dilihat di event viewer. Kamu bisa membukanya dengan cara yang sama.

Masuk ke Windows Log > System. Lalu pilih Filter Current Log.

event viewer

Pada event source, pilih memory diagnostic result. Pilih ok.

Klik ganda pada event yang berupa hasil diagnosis.


Huft. Tampaknya RAM saya baik-baik saja.


Lalu bagaimana dengan hasil diagnosismu?